Rabu, 11 September 2013

KOMITMEN DAN KONSISTENSI


Komitmen dan konsistensi, mungkin kita selalu mendengar dua kata tersebut yang selalu di bicarakan banyak orang.
Kedua kata itu selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita menyadarinya kalau apa yang kita lakukan itu adalah sebuah komitmen ataupun konsistensi
Komitmen adalah suatu sikap atau perbuatan yang kita tanamkan itu disebut dengan komitmen. Sedangkan Konsistensi adalah pelaksanaannya yang awalnya harus di latih dan di ingatkan selalu itulah konsistensi.
Kata Komitmen dan Konsisten memang dua kata yang bukan berakar dari bahasa Indonesia atau Melayu, sehingga kata tersebut memang lebih mudah diucapkan dibanding dipraktekkan. Contohnya saja dalam kehidupan sehari-hari yang paling sederhana contohnya adalah mengajarkan anak dalam pendidikan agama dari kecil kita mengajarkan anak untuk solat lima waktu, kalau tidak solat misalnya kita kasih mereka hukuman di pukul atau di jewer, awalnya memang susah untuk mengajarkan ini kepada anak-anak yang bisa di bilang harus berkali-kali di ingatkan. Namun jika sudah terbiasa maka ini akan menjadi suatu konsistensi yang di lakukan oleh anak kita.
Awas lhoo..hati-hati jika ternyata apa yang kita ingatkan kepada anak ternyata kita sendiri lupa terhadap apa yang kita ingatkan kepada anak kita sendiri  yaitu solat lima waktu, bisa-bisa nanti malah anak kita yang akan menasehatkan sendiri kepada kita mengenai konsistensi tersebut hahahaha.  Itulah yang di sebut dengan konsistensi, dalam pelaksanakanaanya memang sulit untuk di praktekkan. Tidak semua orang bisa melakukannya
Bisa di bilang, Komitmen lebih kepada hasil kesepakatan bersama, yang kemudian menjadi semacam “aturan” meskipun bisa jadi aturan tersebut hanya terbatas pada orang-orang yang terlibat di dalamnya Rule of the game, only the one who join to the game.
Sedangkan Konsistensi atau dalam istilah lain kita sering mendengar istiqomah, adalah sikap yang selalu senantiasa menjaga dan menjalankan komitmen yang sudah disepakati dan dipahami. Sampai kapanpun dan dimanapun, dalam kondisi apapun. Selama komitmen tersebut mengikat pada “game” yang dimainkan. Begitulah kira-kira.
Ibarat kata Konsistensi itu mirip dengan istilah Saklek atau sesuatu yang sudah tidak bisa di tawar-tawar lagi dan tidak keluar dari jalurnya. Tapi terkadang kembali lagi, manusia di ciptakan dengan akal dan budi, ada yang namanya Hati, terkadang ketika kita melakukan pelaksanaan konsistensi tersebut Hati pun turut berperan sehingga yang tadinya kita berusaha untuk konsisten namun pelaksanaannya terkadang tidak sama dengan prakteknya yang di karenakan masih bisa berubahnya pola pikir ketika hati sudah main. Mungkin secara tidak sadar kita sendiri tidak sadar kalau terkadang berusaha untuk konsisten namun nyata nya tidak bisa konsisten. Alias Plin plan…hehe. Ada kok yang seperti itu untuk beberapa hal yang di fikir masih bisa tdk menjadi suatu konsistensi.

Buat saya pribadi, sangat tidak mudah memang untuk Komitmen dan Konsisten. Terutama dalam hal konsisten atau istiqomah. Sebagai manusia wajar memiliki kelemahan dan kekurangan. Yang tidak wajar adalah ketika kelemahan dan kekurangan justru menjadi tunggangan dalam pembenaran terhadap tindakan Un-Commit & Un-consist.
Teringat kisah orang mulia, Rasulullah SAW, seorang Nabi Akhir Zaman. Beliau sampai beruban ketika mendapatkan perintah berupa firman ALLAH SWT dalam surat Hud(11) ayat ke 112. Hal itu menggambarkan betapa besar bobot dari ayat tersebut dan betapa dalam arti istiqomah (=konsisten) yang diperintahkan dalam ayat tersebut. Ayat ini menyuruh untuk tetap beristiqomah di jalan yang benar.
“Oleh itu, hendaklah engkau (wahai Muhammad) sentiasa tetap teguh(Istiqomah) di atas jalan yang betul sebagaimana yang diperintahkan kepadamu (Komitmen untuk taat kepada Allah), dan hendaklah orang-orang yang ruju` kembali kepada kebenaran mengikutmu berbuat demikian dan janganlah kamu melampaui batas hukum- hukum Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” QS Hud:112.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kalian semua. Karena pelajaran mengenai konsistensi saya dapatkan dari seseorang yang mengajarkan saya untuk tidak mudah goyah ketika saya sudah memutuskan melaksanakan sesuatu. Namun saya hanyalah manusia biasa terkadang kembali lagi bahwasannya kita harus mempercayai hati nurani jika memang hal tersebut baik untuk kita sendiri dalam melakukan hal tersebut dan tahu pasti resiko yang kita terima dari perbuatan tersebut.
Thanks to : AZ



Tidak ada komentar:

Posting Komentar