Komitmen dan konsistensi, mungkin kita selalu mendengar dua kata tersebut yang selalu di bicarakan banyak orang.
Kedua kata
itu selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita menyadarinya kalau apa
yang kita lakukan itu adalah sebuah komitmen ataupun konsistensi
Komitmen adalah suatu sikap atau perbuatan
yang kita tanamkan itu disebut dengan komitmen. Sedangkan Konsistensi adalah pelaksanaannya yang awalnya harus di latih dan
di ingatkan selalu itulah konsistensi.
Kata Komitmen dan Konsisten
memang dua kata yang bukan berakar dari bahasa Indonesia atau Melayu, sehingga
kata tersebut memang lebih mudah diucapkan dibanding dipraktekkan. Contohnya saja
dalam kehidupan sehari-hari yang paling sederhana contohnya adalah mengajarkan
anak dalam pendidikan agama dari kecil kita mengajarkan anak untuk solat lima
waktu, kalau tidak solat misalnya kita kasih mereka hukuman di pukul atau di
jewer, awalnya memang susah untuk mengajarkan ini kepada anak-anak yang bisa di
bilang harus berkali-kali di ingatkan. Namun jika sudah terbiasa maka ini akan
menjadi suatu konsistensi yang di lakukan oleh anak kita.
Awas lhoo..hati-hati jika ternyata apa yang kita ingatkan
kepada anak ternyata kita sendiri lupa terhadap apa yang kita ingatkan kepada
anak kita sendiri yaitu solat lima
waktu, bisa-bisa nanti malah anak kita yang akan menasehatkan sendiri kepada
kita mengenai konsistensi tersebut hahahaha.
Itulah yang di sebut dengan konsistensi, dalam pelaksanakanaanya memang sulit
untuk di praktekkan. Tidak semua orang bisa melakukannya
Bisa di bilang, Komitmen lebih
kepada hasil kesepakatan bersama, yang kemudian menjadi semacam “aturan”
meskipun bisa jadi aturan tersebut hanya terbatas pada orang-orang yang
terlibat di dalamnya Rule of the game, only the one who join to the game.
Sedangkan Konsistensi atau
dalam istilah lain kita sering mendengar istiqomah, adalah
sikap yang selalu senantiasa menjaga dan menjalankan komitmen yang sudah
disepakati dan dipahami. Sampai kapanpun dan dimanapun, dalam kondisi apapun.
Selama komitmen tersebut mengikat pada “game” yang
dimainkan. Begitulah kira-kira.
Ibarat kata Konsistensi itu mirip dengan istilah Saklek atau
sesuatu yang sudah tidak bisa di tawar-tawar lagi dan tidak keluar dari
jalurnya. Tapi terkadang kembali lagi, manusia di ciptakan dengan akal dan
budi, ada yang namanya Hati, terkadang ketika kita melakukan pelaksanaan
konsistensi tersebut Hati pun turut berperan sehingga yang tadinya kita
berusaha untuk konsisten namun pelaksanaannya terkadang tidak sama dengan
prakteknya yang di karenakan masih bisa berubahnya pola pikir ketika hati sudah
main. Mungkin secara tidak sadar kita sendiri tidak sadar kalau terkadang
berusaha untuk konsisten namun nyata nya tidak bisa konsisten. Alias Plin plan…hehe.
Ada kok yang seperti itu untuk beberapa hal yang di fikir masih bisa tdk
menjadi suatu konsistensi.
Buat saya
pribadi, sangat tidak mudah memang untuk Komitmen dan Konsisten. Terutama
dalam hal konsisten atau istiqomah. Sebagai manusia wajar memiliki
kelemahan dan kekurangan. Yang tidak wajar adalah ketika kelemahan dan
kekurangan justru menjadi tunggangan dalam pembenaran terhadap tindakan Un-Commit & Un-consist.
Teringat
kisah orang mulia, Rasulullah SAW, seorang Nabi Akhir Zaman. Beliau sampai
beruban ketika mendapatkan perintah berupa firman ALLAH SWT dalam
surat Hud(11) ayat ke 112. Hal itu menggambarkan betapa besar bobot dari ayat
tersebut dan betapa dalam arti istiqomah (=konsisten) yang diperintahkan dalam
ayat tersebut. Ayat ini menyuruh untuk tetap beristiqomah di jalan yang benar.
“Oleh
itu, hendaklah engkau (wahai Muhammad) sentiasa tetap teguh(Istiqomah) di atas jalan yang betul sebagaimana yang diperintahkan
kepadamu (Komitmen untuk taat kepada Allah), dan hendaklah orang-orang yang
ruju` kembali kepada kebenaran mengikutmu berbuat demikian dan janganlah kamu
melampaui batas hukum- hukum Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat akan apa
yang kamu kerjakan.” QS Hud:112.
Semoga tulisan
ini bermanfaat bagi kalian semua. Karena pelajaran mengenai konsistensi saya
dapatkan dari seseorang yang mengajarkan saya untuk tidak mudah goyah ketika
saya sudah memutuskan melaksanakan sesuatu. Namun saya hanyalah manusia biasa
terkadang kembali lagi bahwasannya kita harus mempercayai hati nurani jika
memang hal tersebut baik untuk kita sendiri dalam melakukan hal tersebut dan tahu pasti resiko yang kita terima dari perbuatan tersebut.
Thanks to :
AZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar